Sabtu Tanggal 24 Mei ini di Solo akan digelar Solo Blues Festival dengan menampilkan al. Ginda Bestari dan Rama Satria and The Electric Mojos @ Bagi warga Surabaya yang ingin nge Blues bisa datang ke Rodo Cafe di Jl Arif Rahman Hakim, tiap Kamis malam pada acara regular dari Surabaya Blues Community@ Per Januari 2014 BLUES SONORA di Radio Sonora Bandung 93,3 FM mengudara tiap hari Jum'at mulai pukul 21.00 -24.00 WIB. @YANG INGIN TAHU BREAKING NEWS BLUES follow twitter @onestopblues

JOANNE SHAW TAYLOR, BLUESER CANTIK DARI INGGRIS

Well, mungkin Joanne Shaw Taylor tidak segalak Ana Popovic dalam bermainmusiknya tapi tentu kehadirannya di kancah blues tidak bisa diabaikan begitu saja, apa lagi saat ini ia baru berusia 23 tahun, masih panjang perjalanannya ke depan. Paling tidak ia mewakili  orang-orang muda yang bermain blues, dan tentu ini harus kita sambut dengan sukacita.  Album pertamanya  White  Sugar,  ia jadikan awal keberangkatan menuju masa depannya.

Seperti Ana Popovic, Joanne juga bermain gitar sekaligus bernyanyi. Dan baginya gitar adalah alat untuk menceritakan apa isi hatinya : “Bagi saya bermain solo gitar 3 menit  rasanya bisa mengungkapkan siapa diri saya, melebihi tiga jam jika saya ungkapkan dengan kata-kata. Gitar adalah “mulut” saya yang lain” katanya. Dan Joanne Shaw Taylor sudah berkenalan dengan gitar  sejak masih kecil, pada usia 8 tahun ia sudah belajar gitar klasik di sekolahnya, bahkan kemudian sempat bergabung di UK Youth Ensemble. “Tapi perlahan-lahan saya merasa musik klasik bukan musik yang cocok bagi saya. Ketika saya berusia 13 tahun saya menemukan Blues, saya merasa inilah musik saya. Untuk mempelajari permainan gitar blues saya merasa membutuhkan kedisiplinan yang sama dengan ketika saya belajar klasik,  namun di sini ada kebebasan berekspresi.”

Continue reading JOANNE SHAW TAYLOR, BLUESER CANTIK DARI INGGRIS →

ANOTHER BLUES LADY : ANA POPOVIC

Nama Ana Popovic mungkin belum begitu di kenal di Indonesia. Pemusik kelahiran 13 Mei 1976, di Beograded, Yugoslavia ( yang sekarang menjadi Serbia), ternyata mulai diperhitungkan namanya di kancah blues internasional. 21 Juli yang lalu ia merilis album Blind For Love, album keduanya yang dirilis diatas label  Electro Groove ( anak perusahaan Delta Groove), sebelumnya ia telah merilis album “Still Making History” (2007) diatas label yang sama.

Lahir dari keluarga yang cinta musik, ayahnya juga pemain gitar yang sering  melakukan jamming di rumahnya. Hal ini ditambah koleksi piringan hitam ayahnya yang begitu banyak, membuat Ana tumbuh dengan kecintaan pada musik. Pada usia 19 tahun ia sudah memiliki Band sendiri, dan bermain di luar Yugoslavia, bermain mendampingi  icon-icon blues dari Amerika, seperti Junior Wells dan nama-nama lain.

Tahun 1999, setelah melahirkan albumnya yang pertama, Hometown (1998) Ana Popovic hijrah ke Belanda untuk  untuk belajar  jazz gitar. Pada saat yang sama ia juga membuat grup blues dinegeri Kincir Angin ini yang ternyata bisa berkiprah sampai ke Jerman.  Tahun 2000 ia  melakukan perjalanan ke Memphis dan membuat album  Hush di atas label Ruf. Pada tahun ini pula ia bergabung dengan  Walter Trout, Poppa Chubby, Buddy Miles, Eric Burdon, Bernard Allison dalam satu CD kompilasi Tribute To Jimi Hendrix : “Blue Haze”,  Ana Popovic membawakan lagu “Belly Button Window”.

Tahun 2002 Ana Popovic untuk pertama kalinya membawa bandnya tur di Amerika. Dan setahun berikutnya ia membuat album  Comfort To The Soul masih di atas label Ruf, dan pada tahun ini pula Ana Popovic dinominasikan sebagai  peraih penghargaan W.C Handy Award, dan perjalanan karirnya terus berkembang.  Harus diakui secara umum, jika dilihat dari musik yang ada pada album-album Ana Popovic, maka musiknya tidak murni blues, tapi juga ada campuran funk, jazz, bahkan ada yang regge. Tapi di atas panggung pertunjukan musik yang dimainkan  100 %  BLUES.

Hacked by FRK48

Hacked by FRK48

BIOGRAFI JOHNNY WINTER AKAN TERBIT BULAN MEI

Kabar gembira bagi anda penggemar blues dan terutama sekali penggemar Johnny Winter. Ya tak lama lagi anda semua bisa tahu lebih banyak mengenai perjalanan hidup atau jatuh bangunnya kehidupan gitaris blues legendaris ini. Rencananya pada bulan  Mei nanti akan diluncurkan buku biographi tentang Johnny Winter  dengan judul RAISIN’ CAN : THE WILD AND RAUCOUS STORY Of JOHNNY WINTER, yang disusun oleh seorang penulis wanita bernama Mary Lou Sullivan.

Dalam buku setebal 400 halaman ini diungkapkan kehidupan masa kecil  Johnny Winter sebagai seorang albino yang  sering membuat dirinya dihina teman-temannya, bagaimana ia terlibat dalam event  Woodstock ( 1969),  hubungan asmaranya dengan Janis Joplin, bagaimana awal keterlibatannya dengan obat-obat terlarang,  impian yang menjadi kenyataan ketika ia memproduseri beberapa album Muddy Waters yang kemudian mendapat tiga grammy award, penderitaan dan kerugian akibat menjadi orang yang tergantung pada obat-obat terlarang serta perjuangannya yang panjang dalam mengatasi hal ini sampai akhirnya ia bisa menjadi bersih kembali.

Menurut penyusun buku ini, Mary Lou Sullivan,  diperlukan waktu 7 tahun untuk menggarap buku  biographi Johnny Winter yang dilengkapi oleh 56 foto ekslusif ini.  Ia melakukan wawancara langsung Johnny Winter untuk bisa menggali data-data yang otentik tentang banyak hal dari gitaris albino ini. Selain itu untuk memperkaya kandungan buku ini  Mary juga mewancarai orang-orang di sekitar kehidupan Johnny, seperti ibunya, istrinya,  musisi yang pernah dekat dengannya  ( Tommy Shanon dan Uncle John Turner), mereka yang pernah menjadi manajer Johnny Winter dan banyak lagi. Johnny Winter sendiri berkenan memberi pengantar pada buku biografinya ini, yang cuplikan antara lain  sbb :

I love this book. It has everything. All the things that I wanted people to know, from how hard it was growing up in Texas being an albino, my career, the early days, my problems with drugs . . . It’s excellent and very realistic – it’s exactly what happened.

Mary Lou did a fantastic job — it couldn’t have been better. I don’t think anybody else could have done such a good job or better

“I really hope everybody enjoys this book as much as I did. . . . I’ve led a very interesting life. You can’t make this stuff up.”

Johnny Winter